banner 728x250
Daerah  

Di Balik Tangis Kalidawir: Wabup Sidoarjo Peluk Duka Keluarga Balita Korban Tenggelam, Serukan Kepedulian Bersama

Sidoarjo//Pusatberita.i.news.Site 13 April 2026 Senyap menyelimuti sebuah rumah sederhana di Desa Kalidawir, Kecamatan Tanggulangin. Di antara lantunan doa dan isak tangis yang tak lagi mampu dibendung, duka itu terasa begitu dalam, duka atas kepergian seorang balita kecil, Gibran Septian (1,7), yang harus berpulang terlalu cepat setelah terseret derasnya arus sungai.

Tak ada yang mampu menggambarkan perasaan orang tua mana pun saat kehilangan buah hati tercinta. Rumah yang biasanya dipenuhi tawa kini berubah menjadi ruang penuh air mata. Setiap sudut menyimpan kenangan, setiap helaan napas mengingatkan bahwa sosok kecil itu tak lagi ada.

Di tengah kesedihan yang menyayat hati itu, Wakil Bupati Sidoarjo, Hj. Mimik Idayana, datang dengan langkah pelan dan wajah penuh empati. Ia tidak sekadar hadir sebagai pejabat, tetapi sebagai sesama manusia yang ikut merasakan luka yang begitu dalam.

Dengan mata yang tampak berkaca-kaca, Mimik menyampaikan duka cita kepada keluarga yang ditinggalkan. Suaranya lirih, seakan tak ingin menambah beban di tengah kesunyian yang menyelimuti rumah duka.

“Kami datang bukan hanya sebagai pemerintah, tapi sebagai keluarga besar yang turut berduka. Semoga Allah SWT menguatkan hati keluarga, memberikan kesabaran, dan mengganti kehilangan ini dengan pahala yang berlipat,” ucapnya pelan.

Ia didampingi Kepala BPBD Sidoarjo Sabino Mariano dan Camat Tanggulangin Arie Prabowo, yang turut menundukkan kepala, larut dalam suasana haru bersama warga dan keluarga.

Menurut Mimik, keikhlasan yang ditunjukkan keluarga menjadi kekuatan tersendiri di tengah cobaan berat ini. Meski luka itu tak kasat mata, namun terasa begitu nyata.

“Ini bukan hal mudah. Tapi keluarga telah menerima ini sebagai takdir. Kita semua belajar bahwa di balik setiap musibah, ada hikmah yang harus kita renungkan bersama,” tuturnya.

Namun, di balik air mata yang jatuh, terselip pesan penting yang tak boleh diabaikan. Mimik mengingatkan bahwa tragedi ini harus menjadi pengingat bagi semua, bahwa bahaya bisa datang tanpa diduga, terutama bagi anak-anak yang belum mengerti apa itu risiko.

“Anak-anak kita adalah titipan. Mereka penuh rasa ingin tahu, terutama terhadap air. Tanpa pengawasan, satu detik saja bisa menjadi penyesalan seumur hidup,” tegasnya, suaranya sedikit bergetar.

Ia menyoroti kondisi permukiman di bantaran sungai yang memang memiliki potensi risiko tinggi. Karena itu, pengawasan terhadap anak-anak tidak bisa ditawar lagi, harus menjadi prioritas utama setiap orang tua.

“Ini bukan hanya tanggung jawab keluarga, tapi juga kita semua. Pemerintah akan berupaya meningkatkan pengawasan dan pengamanan di wilayah rawan, agar tidak ada lagi tangis serupa di masa mendatang,” tambahnya.

Kepergian Gibran bukan sekadar meninggalkan duka bagi keluarga, tetapi juga menyisakan luka bagi seluruh warga. Ia menjadi pengingat bahwa kasih sayang bukan hanya tentang cinta, tetapi juga tentang menjaga, dengan sepenuh hati, setiap waktu.

Di penghujung hari, doa-doa terus mengalun, mengantar kepergian seorang anak kecil yang kini telah tenang di sisi-Nya. Sementara di bumi, air mata masih mengalir, menjadi saksi bahwa kehilangan ini begitu nyata, begitu dalam, dan tak akan pernah benar-benar hilang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *