SIDOARJO//Pusatberita.i.news.Site Menjelang perhelatan Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) serentak yang akan digelar pada 24 Mei 2026, masyarakat Kabupaten Sidoarjo dihadapkan pada momentum penting dalam menentukan arah masa depan desanya. Di tengah dinamika tersebut, kesadaran kolektif untuk memilih pemimpin yang jujur dan berintegritas menjadi harapan utama demi terwujudnya pemerintahan desa yang bersih dan berpihak kepada rakyat.
Camat Taman LIRA, Andi Prasetyo, dengan tegas mengingatkan masyarakat agar tidak mengabaikan rekam jejak para calon kepala desa. Ia mengajak warga untuk lebih bijak dan berhati-hati dalam menentukan pilihan, terutama terhadap calon yang pernah tersandung kasus korupsi, khususnya dalam program Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL).
Ditemui di kantor sekretariatnya pada Senin (30/03/2026), pria yang akrab disapa Andigo itu menyampaikan keprihatinannya atas fenomena sejumlah mantan terpidana kasus korupsi PTSL yang kembali maju sebagai calon kepala desa.
“Ini bukan sekadar soal hak politik, tetapi tentang kepercayaan masyarakat yang pernah dikhianati. Jangan sampai luka lama itu terulang kembali,” ujarnya dengan nada penuh keprihatinan.
Beberapa nama yang mencuat di antaranya Rokhayani, mantan Kepala Desa sekaligus calon di Desa Sukolegok, Kecamatan Sukodono; Ulis Dewi Purwanti, mantan Sekretaris Desa Kletek; serta Wawan Setyo Budi Utomo, mantan Kepala Desa Klantingsari, Kecamatan Tarik. Fenomena ini, menurutnya, harus menjadi perhatian serius seluruh elemen masyarakat.
Meski secara aturan para mantan narapidana tetap diperbolehkan mencalonkan diri, Andigo menegaskan bahwa mereka memiliki kewajiban moral dan hukum untuk menyampaikan statusnya secara terbuka kepada publik. Transparansi tersebut, kata dia, bukan sekadar formalitas, melainkan bentuk kejujuran kepada masyarakat yang akan menentukan pilihan.
“Rakyat berhak tahu siapa yang akan mereka pilih. Jangan ada yang ditutupi. Jika kewajiban itu tidak dijalankan, masyarakat harus berani bersuara dan menuntut keadilan,” tegasnya.
Lebih jauh, ia mengajak masyarakat untuk tidak terjebak dalam praktik politik uang yang kerap mewarnai pesta demokrasi di tingkat desa. Menurutnya, iming-iming materi sesaat tidak sebanding dengan dampak jangka panjang yang harus ditanggung jika salah memilih pemimpin.
“Jangan gadaikan masa depan desa hanya karena uang. Uang bisa habis dalam sehari, tetapi dampak dari kepemimpinan yang buruk bisa dirasakan bertahun-tahun. Pilihlah pemimpin yang bersih, yang benar-benar ingin mengabdi, bukan yang pernah mengkhianati amanah rakyat,” tuturnya penuh harap.
Pilkades bukan sekadar agenda lima tahunan, melainkan titik penentu arah pembangunan desa. Dari tangan pemimpin yang tepat, kesejahteraan, keadilan, dan kemajuan desa dapat terwujud. Namun sebaliknya, dari pilihan yang keliru, penderitaan dan ketidakpercayaan bisa kembali terulang.
Di akhir pernyataannya, Andigo mengajak seluruh masyarakat Sidoarjo untuk menjadikan Pilkades 2026 sebagai momentum kebangkitan moral dan kesadaran bersama.
“Ini saatnya kita bangkit. Jangan biarkan desa kita dipimpin oleh mereka yang pernah mencederai kepercayaan rakyat. Masa depan desa ada di tangan kita semua,” pungkasnya.


