banner 728x250
Daerah  

Dr.drAndre Yulius, MH dan Prof. dr.Benjamin Kristanto, MARS Serukan Pesan Moral Politik: “Wes Wayah’e Rakyat Diramut, Ora Diapusi”

SURABAYA//Pusatberita.i.news.Site.          Di tengah dinamika politik yang terus berkembang, dua tokoh dari latar belakang partai berbeda menyampaikan pesan moral yang kuat bagi para pemimpin dan pelaku politik. Mereka adalah Dr. dr. Andre Yulius dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan dan Prof.dr. Benjamin Kristanto .MARS dari Partai Gerindra.

Keduanya menyuarakan sebuah kalimat sederhana namun sarat makna yang kini mulai banyak diperbincangkan di kalangan masyarakat, yakni “Wes wayah’e rakyat diramut, ora diapusi.” Dalam bahasa Indonesia, kalimat tersebut memiliki arti “Sudah waktunya rakyat dirawat, diperhatikan, bukan dibohongi.”

Pesan tersebut bukan sekadar ungkapan biasa. Di tengah berbagai dinamika politik, kalimat tersebut menjadi pengingat bahwa politik sejatinya adalah tentang pengabdian kepada rakyat, bukan sekadar perebutan kekuasaan.


Sebagai politikus muda dari PDI Perjuangan, Dr. dr. Andre Yulius menilai bahwa masyarakat saat ini telah berkembang menjadi masyarakat yang semakin cerdas dan kritis. Menurutnya, rakyat tidak lagi mudah terpengaruh oleh janji-janji manis yang hanya muncul menjelang momentum politik.

Ia menegaskan bahwa masyarakat kini lebih menginginkan pemimpin yang benar-benar hadir di tengah mereka, memahami kesulitan mereka, serta mampu memberikan solusi nyata bagi kehidupan sehari-hari.

“Rakyat hari ini sudah semakin sadar dan memahami arti kepemimpinan. Mereka tidak lagi sekadar mendengar janji, tetapi melihat tindakan. Karena itu, sudah waktunya kita benar-benar merawat kepercayaan rakyat dengan kerja nyata, bukan sekadar kata-kata,” ungkapnya.

Sementara itu, pandangan serupa juga disampaikan oleh Prof. dr. Benjamin Kristanto dari Partai Gerindra. Ia menilai bahwa kalimat tersebut merupakan refleksi dari harapan masyarakat yang selama ini menginginkan pemimpin yang jujur, dekat dengan rakyat, serta memiliki kepedulian yang tulus.

Menurutnya, politik yang baik adalah politik yang mampu menghadirkan kesejahteraan dan rasa keadilan bagi masyarakat. Oleh karena itu, seorang pemimpin harus menjaga kepercayaan yang telah diberikan oleh rakyat.

“Kepercayaan rakyat itu mahal harganya. Sekali rusak karena kebohongan atau janji yang tidak ditepati, akan sangat sulit untuk mengembalikannya. Karena itu, kita harus selalu ingat bahwa politik bukan hanya tentang jabatan, tetapi tentang amanah yang harus dijaga,” jelasnya.


Menariknya, meskipun berasal dari dua partai politik yang berbeda, kedua tokoh tersebut menunjukkan bahwa kepentingan rakyat dapat menjadi titik temu dalam berbagai perbedaan pandangan politik. Hal ini menjadi gambaran bahwa semangat untuk membangun masyarakat yang lebih baik seharusnya berada di atas kepentingan kelompok atau golongan.

Pesan yang mereka sampaikan juga dianggap sebagai refleksi dari kondisi masyarakat saat ini. Banyak masyarakat yang berharap agar para pemimpin tidak hanya datang ketika membutuhkan dukungan, tetapi juga hadir ketika rakyat menghadapi berbagai kesulitan dalam kehidupan sehari-hari.

Kalimat “wes wayah’e rakyat diramut, ora diapusi” pun kemudian menjadi sebuah pengingat bahwa rakyat bukan sekadar objek dalam kontestasi politik, melainkan subjek utama yang harus dihormati, dilindungi, dan diperjuangkan kesejahteraannya.

Bagi banyak masyarakat, pesan ini terasa sangat menyentuh karena menggambarkan harapan sederhana rakyat: pemimpin yang jujur, peduli, dan benar-benar bekerja untuk kepentingan mereka.

Di tengah berbagai tantangan sosial dan ekonomi yang masih dihadapi masyarakat, kehadiran pemimpin yang mampu mendengarkan suara rakyat, memahami penderitaan mereka, serta memperjuangkan masa depan yang lebih baik menjadi sesuatu yang sangat dinantikan.

Melalui pesan tersebut, Dr. dr. Andre Yulius dan Prof. dr. Benjamin Kristanto berharap dunia politik ke depan dapat semakin matang dan berorientasi pada kepentingan masyarakat luas.

Karena pada akhirnya, politik yang sejati bukanlah tentang siapa yang paling berkuasa, tetapi tentang siapa yang paling tulus mengabdi kepada rakyat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *