
SIDOARJO//Pusatberita.i.news.Site Suasana Ramadan yang seharusnya menghadirkan ketenangan dan kekhusyukan di Desa Kedungrejo, Kecamatan Waru, Kabupaten Sidoarjo, mendadak menjadi perbincangan warga. Kegiatan berbagi takjil di Mushola Fastabiqul Khoirot, Dusun Bandilan, menuai perhatian karena diduga dikaitkan dengan dinamika politik menjelang Pemilihan Kepala Desa (Pilkades).
Awalnya, kegiatan tersebut disebut sebagai aksi sosial murni untuk membantu masyarakat yang tengah menjalankan ibadah puasa. Tradisi berbagi takjil di bulan suci memang menjadi bagian dari nilai kebersamaan dan kepedulian. Namun, sejumlah warga mengaku menerima informasi bahwa acara itu rencananya akan menghadirkan salah satu calon kepala desa (cakades) berinisial Sji untuk ikut serta dalam pembagian takjil.
Kabar tersebut memunculkan pro dan kontra di tengah masyarakat. Sebagian warga menilai kegiatan sosial tetap harus dijaga kemurniannya, terlebih dilaksanakan di tempat ibadah yang seharusnya netral dari kepentingan politik.
Saat awak media mendatangi lokasi untuk melakukan konfirmasi, suasana sempat memanas. Seorang wanita berinisial W yang berada di tempat menyambut dengan nada tinggi.
“Kalian dari mana? Disuruh siapa datang ke sini? Silakan diviralkan sekalian. Ini bagi takjil biaya pribadi saya,” ujarnya.
Meski demikian, warga lainnya berinisial R menyampaikan bahwa masyarakat tidak mempermasalahkan aksi berbagi takjil itu sendiri. Ia justru mengapresiasi kegiatan sosial yang membantu warga berbuka puasa.
“Kalau bagi takjil saja, itu sangat baik. Itu bagian dari ajaran Islam, berbagi di bulan suci. Tapi mushola adalah tempat ibadah, bukan tempat kampanye. Apalagi jadwal kampanye resmi dari panitia Pilkades belum ditetapkan,” katanya.
Di sisi lain, Takmir mushola berinisial KL turut memberikan klarifikasi. Ia menegaskan bahwa pada prinsipnya kegiatan berbagi takjil di mushola diperbolehkan dan merupakan hal yang baik selama tujuannya murni untuk kebaikan.
“Bagi takjil di mushola itu boleh-boleh saja dan itu baik. Tapi jangan sampai kegiatan tersebut ditunggangi kepentingan politik atau kampanye. Untuk kegiatan hari ini, saya sendiri tidak tahu apakah ada indikasi kampanye atau tidak,” jelasnya.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa pihak pengelola mushola juga berharap tempat ibadah tetap dijaga netralitasnya. Mushola, menurutnya, adalah ruang suci untuk beribadah dan mempererat ukhuwah, bukan arena persaingan politik.
Sebelum kegiatan berlangsung, sempat terjadi ketegangan antara dua warga berinisial Skj dan Kr. Perdebatan itu hampir memicu keributan hingga salah satu pihak sempat menghubungi aparat kepolisian untuk berjaga-jaga. Beruntung, situasi dapat diredam dan diselesaikan secara kekeluargaan setelah adanya komunikasi serta permintaan maaf.
Sebagian warga menduga isu ini muncul karena adanya informasi bahwa calon berinisial Sji sempat direncanakan hadir. Namun hingga pembagian takjil berlangsung, yang bersangkutan tidak terlihat di lokasi.
Bagi masyarakat Kedungrejo, Pilkades adalah pesta demokrasi yang harus dijalani secara damai, jujur, dan bermartabat. Mereka berharap seluruh calon dan tim pendukung dapat menjaga etika serta menghormati tempat-tempat ibadah.
“Ramadan ini bulan penuh ampunan dan persaudaraan. Jangan sampai perbedaan pilihan membuat kita terpecah. Mushola itu tempat kita bersujud, bukan tempat mencari dukungan,” ungkap seorang warga.
Warga juga mengingatkan bahwa aturan melarang kampanye di tempat ibadah. Karena itu, jika nantinya ditemukan pelanggaran, mereka berharap panitia Pilkades dapat bertindak sesuai ketentuan demi menjaga ketertiban dan persatuan.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari pihak calon kades berinisial Sji maupun panitia Pilkades Desa Kedungrejo. Awak media masih berupaya melakukan konfirmasi lanjutan untuk menjaga keberimbangan informasi.
Di tengah dinamika ini, harapan warga sederhana: biarlah mushola tetap menjadi tempat yang meneduhkan hati, menyatukan doa, dan menguatkan persaudaraan. Ramadan semestinya menjadi momen mempererat kebersamaan, bukan membuka celah perpecahan.


