banner 728x250
Daerah  

Demi Keselamatan Warga Jelang Lebaran, Wabup Mimik Idayana Turun Tangan Benahi Lingkar Timur yang Rusak Parah

 


SIDOARJO//Pusatberita.i.news.Site. Menjelang arus mudik Lebaran Idul Fitri 1447 H, kondisi Jalan Lingkar Timur Sidoarjo yang rusak parah menjadi kegelisahan bersama. Lubang menganga di sejumlah titik, permukaan aspal bergelombang, hingga genangan air saat hujan turun, menjadi ancaman nyata bagi keselamatan para pengguna jalan

Di tengah keluhan masyarakat yang terus bermunculan, Wakil Bupati Sidoarjo, Mimik Idayana, memilih untuk tidak tinggal diam. Kamis (26/2/2026), ia turun langsung melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke sejumlah titik kerusakan, memastikan kondisi di lapangan sekaligus mencari solusi percepatan perbaikan.

Ruas yang menjadi sorotan utama adalah Jalan Lingkar Timur, mulai dari Desa Wedoro Klurak, Kecamatan Candi, hingga Desa Bluru Kidul, Kecamatan Sidoarjo Kota. Jalan yang menjadi salah satu urat nadi perekonomian dan mobilitas warga itu kini dipenuhi lubang besar yang membahayakan, khususnya bagi pengendara roda dua.

“Ini menyangkut keselamatan masyarakat. Tidak bisa menunggu terlalu lama. Apalagi menjelang Lebaran, volume kendaraan pasti meningkat,” tegas Wabup saat berada di lokasi.

Tak hanya Lingkar Timur, sidak juga dilakukan di Jalan Bulang, Kecamatan Prambon, Jalan Candi–Prasung, Kecamatan Buduran, hingga Jembatan Wadungasih yang kondisinya dinilai sangat memprihatinkan. Di Jembatan Wadungasih, Wabup bahkan menyoroti minimnya pengaman sementara yang bisa mencegah kecelakaan, terutama pada malam hari.

“Jembatan ini sangat parah. Sudah beberapa kali disurati. Harus segera diberi pengaman supaya tidak ada pengendara yang terperosok,” ujarnya dengan nada prihatin.

Gandeng CSR Demi Percepatan

Dalam upaya mempercepat penanganan, Wabup Mimik mengambil langkah taktis dengan menggandeng perusahaan di sekitar kawasan Lingkar Timur melalui program Corporate Social Responsibility (CSR). Langkah ini diambil agar proses perbaikan tidak terhambat prosedur panjang pencairan anggaran dinas.

“Saya sudah menghubungi salah satu perusahaan di sekitar sini, dan mereka siap membantu melalui dana CSR. Ini solusi percepatan agar masyarakat tidak terus dirugikan,” jelasnya.

Langkah tersebut mendapat respons beragam. Sebagian masyarakat mengapresiasi gerak cepat pemerintah daerah. Namun tak sedikit pula yang mempertanyakan mengapa perbaikan jalan strategis harus mengandalkan CSR, dan bukan sepenuhnya melalui mekanisme anggaran daerah.

Wabup menjelaskan bahwa perbaikan permanen berupa pengecoran memang membutuhkan anggaran besar serta proses administrasi yang tidak singkat. Saat ini, program pengecoran dari pemerintah pusat baru menjangkau hingga kawasan Mal Pelayanan Publik (MPP) Sidoarjo. Sementara ruas berat di wilayah Candi masih menunggu tahap lanjutan dan alokasi anggaran berikutnya.

Untuk sementara, penambalan darurat akan segera dilakukan agar jalan tetap aman dilalui. Pemerintah daerah, kata dia, tidak ingin ada korban kecelakaan akibat lambannya respons terhadap kerusakan yang sudah lama dikeluhkan warga.

Keselamatan Warga Jadi Prioritas

Sidak yang dimulai pukul 09.00 WIB itu diawali dari Jalan Bulang di Kecamatan Prambon, dilanjutkan pukul 10.00 WIB di Jalan Candi–Prasung, dan pukul 11.00 WIB di Jembatan Wadungasih. Dalam kegiatan tersebut, Wabup didampingi Kepala Dinas Pekerjaan Umum Bina Marga (PUBM) Kabupaten Sidoarjo serta para camat setempat.

Langkah cepat melalui CSR dinilai sebagai solusi jangka pendek yang realistis. Namun masyarakat kini berharap ada langkah jangka panjang yang lebih terencana, transparan, dan tepat waktu dalam pengelolaan anggaran infrastruktur.

Menjelang Hari Raya, ribuan warga akan melintas di jalan-jalan tersebut untuk bersilaturahmi dengan keluarga. Jalan yang aman bukan sekadar soal kenyamanan, melainkan tentang keselamatan jiwa.

Pemerintah pun dituntut tidak hanya reaktif terhadap keluhan, tetapi juga memastikan sistem perencanaan dan realisasi anggaran berjalan efektif tanpa hambatan birokrasi.

Di tengah semangat menyambut Lebaran, harapan masyarakat sederhana: pulang dengan selamat, tanpa rasa cemas di jalan yang seharusnya menjadi penghubung kebahagiaan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *