SIDOARJO//Pusatberita.i.news.Site.
Tak ada yang lebih membahagiakan bagi Anwar Muhammad (56) selain bisa kembali menjejakkan kaki di rumahnya sendiri. Rumah yang dulu sempat roboh dan memaksanya hidup berpindah-pindah, kini berdiri kembali dengan wajah baru, lebih kokoh, lebih layak, dan penuh harapan.
Beberapa bulan lalu, hidup Anwar berubah drastis. Rumah sederhana yang selama ini menjadi tempat berteduh bersama anaknya di Perumahan Gading Fajar, Desa Sepande, Kecamatan Candi, Kabupaten Sidoarjo, ambruk karena kondisi bangunan yang sudah rapuh dimakan usia. Atap runtuh, plafon rusak, dan sebagian struktur tak lagi mampu menopang beban.

Dalam situasi sulit itu, Anwar tak punya pilihan selain meninggalkan rumahnya. Bersama sang anak, ia menyewa kamar kos sederhana di kawasan Sumokali. Dengan penghasilan yang terbatas, biaya kos menjadi beban tambahan yang tak ringan. Namun sebagai seorang ayah, ia tetap berusaha tegar demi memastikan anaknya tetap memiliki tempat berteduh yang aman.
Hari-hari di kamar kos dijalani dengan penuh kesabaran. Di tengah keterbatasan, Anwar hanya bisa berharap suatu saat rumahnya dapat diperbaiki. Ia menyadari, untuk membangun kembali rumah tersebut dengan biaya sendiri adalah sesuatu yang nyaris mustahil.
Harapan itu akhirnya datang melalui kepedulian banyak pihak. BAZNAS Kabupaten Sidoarjo turun tangan melalui program Rumah Layak Huni (RLH). Program ini merupakan wujud nyata pemanfaatan dana zakat, infak, dan sedekah yang dihimpun dari masyarakat, termasuk para ASN di lingkungan Pemerintah Kabupaten Sidoarjo.

Dalam pelaksanaannya, BAZNAS bersinergi dengan Lazismu Sidoarjo untuk melakukan renovasi menyeluruh pada rumah Anwar. Proses perbaikan dilakukan secara bertahap, mulai dari pembongkaran bagian yang rusak, penggantian rangka atap, pemasangan atap baru, hingga pemasangan plafon di seluruh ruangan agar rumah kembali layak dan aman ditempati.
Perlahan namun pasti, bangunan yang sebelumnya tampak tak berbentuk mulai kembali berdiri. Dinding diperkuat, atap diperbarui, dan ruang-ruang di dalam rumah kembali memiliki fungsi sebagaimana mestinya. Bagi sebagian orang, mungkin ini sekadar renovasi rumah biasa. Namun bagi Anwar, ini adalah kebangkitan hidupnya.

Saat penyerahan hasil renovasi dilakukan, suasana haru begitu terasa. Anwar berdiri di depan rumahnya yang kini tampak lebih kokoh. Matanya berkaca-kaca, suaranya bergetar ketika menyampaikan rasa syukur.
“Alhamdulillah, saya tidak menyangka bisa kembali tinggal di rumah sendiri. Terima kasih kepada semua yang sudah membantu. Semoga Allah membalas semua kebaikan ini,” ucapnya lirih.
Kini, ia dan anaknya tak lagi harus menghitung biaya kos setiap bulan. Mereka tak lagi dihantui kekhawatiran saat hujan turun atau angin kencang menerpa. Rumah yang dulu nyaris hilang kini menjadi simbol kekuatan doa dan kepedulian sesama.
Program Rumah Layak Huni bukan sekadar proyek pembangunan fisik. Lebih dari itu, program ini memulihkan rasa aman, menjaga martabat keluarga prasejahtera, dan menyalakan kembali semangat hidup mereka. Dari dana zakat yang dihimpun, lahir kebahagiaan nyata bagi warga yang membutuhkan.
Kisah Anwar menjadi pengingat bahwa zakat bukan hanya angka dalam laporan keuangan, tetapi jembatan harapan bagi mereka yang tengah berada di titik terendah kehidupan. Dari tangan-tangan dermawan masyarakat Sidoarjo, sebuah rumah berdiri kembali, dan bersama itu, berdiri pula harapan baru bagi sebuah keluarga.
Di balik tembok yang kini kokoh, tersimpan cerita tentang kesabaran, keteguhan, dan kekuatan solidaritas. Anwar kini tak lagi menatap rumahnya dengan rasa cemas, melainkan dengan penuh syukur. Sebab di sanalah ia kembali menemukan arti pulang, bukan sekadar ke bangunan, tetapi ke kehidupan yang lebih layak dan bermartabat.


