SIDOARJO//Pusatberita.i.news.Site.
Di sebuah rumah sederhana di Desa Durungbedug, Kecamatan Candi, Kabupaten Sidoarjo, seorang anak perempuan berusia 12 tahun menjalani hari-harinya dalam kondisi yang jauh dari kehidupan anak seusianya. Nayla Tazkiyah Ramadhani tumbuh dengan perjuangan yang tak terlihat banyak orang — tubuhnya terus mengalami penyusutan sejak usia tiga tahun, tanpa kepastian medis yang mampu menjelaskan sepenuhnya apa yang terjadi.
Setiap hari, Nayla lebih banyak menghabiskan waktu di dalam rumah. Tubuh kecilnya menjadi saksi bisu perjalanan panjang keluarga yang tak pernah berhenti berharap akan kesembuhan. Bagi keluarganya, melihat kondisi Nayla yang semakin melemah adalah luka yang terus terasa, namun mereka tetap berusaha kuat demi masa depan sang anak.
Perjuangan di Tengah Keterbatasan
Upaya pengobatan sudah berkali-kali dilakukan. Nayla pernah dibawa ke rumah sakit saat mengalami demam tinggi dan kejang. Namun hingga kini, belum ada jawaban pasti mengenai penyakit yang dideritanya. Ketidakpastian itu menjadi beban tersendiri bagi keluarga yang hidup dalam keterbatasan ekonomi.
Cobaan keluarga Nayla tidak berhenti pada persoalan kesehatan. Ia juga terkendala masalah administrasi kependudukan karena belum tercatat dalam Kartu Keluarga. Kondisi ini membuat akses terhadap layanan kesehatan dan bantuan sosial menjadi semakin sulit. Hak dasar seorang anak untuk mendapatkan perlindungan dan pelayanan kesehatan pun seolah terhambat oleh persoalan administratif.
Kasih Sayang Seorang Nenek
Di tengah semua keterbatasan, Nayla dirawat penuh kasih oleh neneknya, Suparni, yang menjadi sandaran utama keluarga. Bersama kakaknya, M. Andika Putra, mereka menjalani hidup dengan penuh kesederhanaan. Andika bahkan harus mengorbankan pendidikannya demi membantu keluarga bertahan.
Meski hidup tidak mudah, ikatan keluarga menjadi sumber kekuatan. Setiap senyum kecil Nayla menjadi harapan besar bagi orang-orang di sekitarnya.
Uluran Tangan yang Diharapkan
Kisah Nayla akhirnya menarik perhatian DPRD Kabupaten Sidoarjo, khususnya Komisi D. Para anggota dewan turun langsung melihat kondisi Nayla dan keluarganya. Mereka berkoordinasi dengan Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil untuk mempercepat penyelesaian administrasi, agar Nayla dapat segera memperoleh haknya sebagai warga negara.
Selain itu, upaya pemeriksaan medis lanjutan juga tengah diupayakan, dengan harapan kondisi kesehatan Nayla bisa segera diketahui secara jelas dan mendapatkan penanganan yang tepat. DPRD juga mendorong agar kakak Nayla dapat kembali melanjutkan pendidikan melalui jalur alternatif.
Cermin Kepedulian Sosial
Kisah Nayla bukan hanya tentang satu keluarga yang berjuang, tetapi juga menjadi pengingat bagi masyarakat tentang pentingnya kepedulian sosial. Di tengah hiruk pikuk kehidupan modern, masih ada anak-anak yang berjuang dalam diam, menunggu perhatian dan bantuan.
Harapan kini bertumpu pada kerja sama berbagai pihak , pemerintah, tenaga medis, dan masyarakat , agar Nayla tidak lagi berjuang sendirian. Semoga langkah-langkah yang sedang diupayakan dapat membuka jalan menuju kehidupan yang lebih layak dan penuh harapan bagi Nayla dan keluarganya


