
Sidoarjo//Pusatberita inews.Site Di tengah jejak kerusakan akibat bencana yang masih membekas di Dusun Salam, Desa Babo, Kecamatan Bandar Pusaka, Kabupaten Aceh Tamiang, sebuah bangunan perlahan berdiri. Fondasinya kokoh, dikerjakan dengan penuh kehati-hatian oleh para relawan dan warga setempat. Bangunan itu bukan sekadar musholla. Ia adalah simbol harapan baru—hasil gotong royong zakat masyarakat Sidoarjo yang menjelma menjadi kehidupan bagi warga terdampak bencana.
Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kabupaten Sidoarjo melalui program BAZNAS Tanggap Bencana (BTB) menginisiasi pembangunan Musholla Pajak (Pasar) sekaligus fasilitas sumur bor untuk memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat. Proyek kemanusiaan ini didanai sepenuhnya melalui program Amanah Masyarakat Sidoarjo (AMS), sebuah gerakan solidaritas warga yang menghimpun zakat, infak, dan sedekah untuk pemulihan wilayah pascabencana di Sumatra.
Langkah ini menjadi bukti nyata bahwa zakat tidak hanya berhenti pada kewajiban ibadah, tetapi mampu menjadi kekuatan sosial yang membangun kembali sendi-sendi kehidupan masyarakat. Program ini juga sejalan dengan kampanye nasional “Zakat Menguatkan Indonesia” serta bagian dari persiapan menyambut agenda “Ramadhan Tangguh 2026”.
Pada Jumat (6/2/2026), tim BTB BAZNAS Sidoarjo melakukan verifikasi langsung ke lokasi pembangunan. Kunjungan tersebut bertujuan memastikan setiap tahapan pekerjaan berjalan sesuai standar, sekaligus menjamin transparansi pengelolaan dana umat.
Koordinator BTB BAZNAS Sidoarjo, Ahmad Hamdani, menegaskan bahwa pembangunan ini merupakan bentuk tanggung jawab moral kepada para muzaki yang telah mempercayakan zakatnya.
“Dana zakat adalah amanah. Kami memastikan setiap rupiah diubah menjadi infrastruktur yang benar-benar bermanfaat dan berkelanjutan. Ini bukan hanya soal membangun bangunan, tetapi membangun ketahanan dan masa depan komunitas,” ujarnya saat meninjau progres fondasi musholla.
Di tengah deretan pohon kelapa yang mengelilingi Dusun Salam, musholla yang tengah dibangun akan difungsikan sebagai pusat ibadah sekaligus ruang interaksi sosial warga. Bagi masyarakat yang selama ini berjuang bangkit dari bencana, keberadaan musholla menjadi tempat menenangkan diri, mempererat silaturahmi, dan menumbuhkan kembali semangat kebersamaan.
Tak kalah penting, pembangunan sumur bor menjadi solusi atas persoalan krisis air bersih yang telah lama dirasakan warga. Selama ini, akses air bersih menjadi tantangan utama dalam kehidupan sehari-hari. Dengan hadirnya fasilitas ini, ratusan kepala keluarga diproyeksikan dapat menikmati pasokan air bersih yang layak dan berkelanjutan.
Tokoh masyarakat setempat menyampaikan apresiasi mendalam atas kepedulian warga Sidoarjo melalui BAZNAS. Menurutnya, bantuan tersebut menyentuh kebutuhan paling mendasar masyarakat pascabencana.
Yang membuat proyek ini semakin istimewa adalah pendekatan pembangunan partisipatif. Warga Dusun Salam dilibatkan secara aktif sejak tahap awal, mulai dari penyediaan lahan, kerja bakti pembersihan lokasi, hingga pengawasan harian yang dilakukan oleh perwakilan masyarakat. Keterlibatan ini menciptakan rasa memiliki yang kuat terhadap fasilitas yang dibangun.
Zakat yang datang ke sini bukan hanya bantuan materi, tetapi juga membawa kepercayaan. Kami merasa dihargai karena dilibatkan dalam setiap proses. Ini membuat kami berkomitmen untuk menjaga dan merawatnya bersama,” ungkap salah satu koordinator lapangan.
BAZNAS Sidoarjo menargetkan seluruh fasilitas dapat digunakan sepenuhnya saat memasuki bulan suci Ramadhan 2026. Melalui program Ramadhan Tangguh, lembaga ini ingin memastikan masyarakat dapat menjalankan ibadah dengan nyaman, sekaligus menikmati akses kebutuhan dasar yang lebih baik.
Sebelum serah terima dilakukan, BAZNAS akan menggelar uji kualitas air sumur bor serta memberikan pelatihan kepada warga terkait pengelolaan dan perawatan fasilitas. Upaya ini bertujuan menjamin keberlanjutan manfaat dalam jangka panjang.
Dari dokumentasi foto udara di lokasi, terlihat kontras yang kuat antara sisa-sisa kerusakan akibat bencana dan aktivitas para relawan berseragam oranye yang bekerja tanpa lelah. Pemandangan tersebut menjadi gambaran nyata bahwa solidaritas kolektif mampu mengubah duka menjadi energi kebangkitan
Zakat Menguatkan Indonesia bukan sekadar slogan. Di Aceh Tamiang, zakat telah menjadi fondasi bangunan, sumber air kehidupan, dan senyum yang kembali tumbuh di wajah masyarakat,” pungkas Ahmad Hamdani.
Inisiatif ini menegaskan bahwa zakat adalah jembatan kemanusiaan yang menghubungkan kepedulian antardaerah. Dari Sidoarjo untuk Aceh Tamiang, zakat telah menjelma menjadi cahaya harapan—menghidupkan kembali optimisme dan memperkuat keyakinan bahwa gotong royong adalah kekuatan terbesar bangsa.








