banner 728x250
Daerah  

Tak Berani Pulang ke Rumah Sendiri, Ibu Umi Menunggu Uluran Tangan di Tengah Rumah yang Nyaris Roboh

 


SIDOARJO//Pusatberita.i- news.Site.        Di balik dinding rapuh sebuah rumah sederhana di RT 03 RW 01 Desa Radegan, Kabupaten Sidoarjo, tersimpan ketakutan yang terus menghantui sebuah keluarga kecil. Sejak kamar bagian belakang rumahnya runtuh pada Minggu (11/1/2026), Ibu Umi Choyida tak lagi merasa aman berada di rumah yang selama ini menjadi satu-satunya tempat berlindung.

Hingga Rabu (14/1/2026), kondisi rumah tersebut justru semakin mengkhawatirkan. Atapnya tampak kian rapuh, kayu penyangga melemah, dan setiap hembusan angin membuat keluarga ini diliputi rasa cemas. Mereka takut, sewaktu-waktu rumah itu benar-benar ambruk dan merenggut nyawa.

Kamar belakang yang runtuh sebelumnya ditempati oleh Huri Kuswanto, kakak kandung Ibu Umi yang mengalami gangguan jiwa. Meski peristiwa itu tidak menelan korban, trauma dan ketakutan justru terus membayangi hari-hari mereka.


Ironisnya, di tengah kondisi rumah yang nyaris roboh, keluarga ini tidak memiliki pilihan lain. Secara ekonomi, mereka hidup dalam keterbatasan. Setiap hari, Ibu Umi hanya mampu mengais rezeki sebagai pemilah gagang cabai, dengan penghasilan sekitar Rp24 ribu per hari. Jumlah itu bahkan sering kali tak cukup untuk kebutuhan makan sehari-hari. Sang suami pun bekerja serabutan, dengan penghasilan yang tidak menentu.

Untuk sekadar memperbaiki rumah, harapan itu terasa terlalu jauh.

“Saya takut masuk rumah sendiri. Kalau hujan atau angin kencang, saya selalu kepikiran atapnya bisa jatuh kapan saja. Kami tidak punya uang untuk memperbaiki. Kami hanya bisa berharap ada yang menolong,” tutur Ibu Umi lirih, sembari menahan air mata.

Kini, Ibu Umi hanya menyimpan satu harapan: bisa bertemu langsung dengan Wakil Bupati Sidoarjo, Ibu Mimik Idayana, agar keluh kesahnya didengar. Bukan untuk meminta kemewahan, melainkan sekadar tempat tinggal yang aman agar keluarganya bisa tidur tanpa rasa takut.


Warga sekitar pun ikut merasakan keprihatinan. Mereka berharap pemerintah desa hingga Pemerintah Kabupaten Sidoarjo segera turun tangan, sebelum rumah tersebut benar-benar roboh dan menyisakan penyesalan.

“Kasihan Bu Umi. Setiap hari hidupnya penuh rasa takut. Kami berharap pemerintah cepat membantu,” ungkap salah satu tetangga.

Kisah Ibu Umi adalah potret sunyi kemiskinan yang kerap luput dari perhatian. Di saat sebagian orang merasa aman di balik tembok rumah yang kokoh, ada warga yang setiap malam tidur dengan cemas, menunggu keajaiban datang sebelum rumah terakhirnya runtuh bersama harapan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *