banner 728x250
Daerah  

HUT PDI Perjuangan 10 Januari: Satyam Eva Jayate, Perlawanan Politik Kebenaran di Tengah Demokrasi yang Digerus Kekuasaan

 


Sidoarjo//Pusqtberita.i-news.Site. Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI Perjuangan) setiap 10 Januari bukan sekadar agenda seremonial. Di tengah menguatnya politik transaksional, kompromi kekuasaan, dan melemahnya etika demokrasi, PDI Perjuangan kembali menegaskan garis ideologisnya dengan mengusung tema “Satyam Eva Jayate”—kebenaran pasti akan menang.

Tema tersebut dinilai sebagai sikap politik terbuka PDI Perjuangan dalam membaca kondisi demokrasi nasional yang kian diwarnai tarik-menarik kepentingan elite dan menjauhnya kekuasaan dari aspirasi rakyat.

Politisi muda PDI Perjuangan yang juga Anggota DPRD Kabupaten Sidoarjo, Kusumo Adi Nugroho, menegaskan bahwa Satyam Eva Jayate adalah pesan perlawanan moral terhadap praktik politik yang mengorbankan prinsip demi kekuasaan.

“Ketika politik hanya diukur dari menang dan kalah, maka kebenaran sering dikorbankan. PDI Perjuangan menolak logika itu. Kami berdiri pada keyakinan bahwa kekuasaan tanpa kebenaran hanya akan melahirkan ketidakadilan,” tegas Kusumo.

Ia menyebut, sejarah panjang PDI Perjuangan membuktikan bahwa partai ini tidak pernah lahir dari kompromi, melainkan dari perlawanan terhadap penindasan, manipulasi politik, dan pembungkaman demokrasi.

Menurut Kusumo, HUT PDI Perjuangan seharusnya menjadi peringatan keras bagi seluruh pemegang kekuasaan, baik di pusat maupun daerah, agar tidak menjadikan demokrasi sekadar alat legitimasi kekuasaan.

“Demokrasi tidak boleh direduksi menjadi prosedur elektoral semata. Jika kekuasaan dijalankan tanpa etika, tanpa kejujuran, dan tanpa keberpihakan kepada rakyat, maka yang lahir adalah ketimpangan dan krisis kepercayaan publik,” ujarnya.

Sebagai anggota DPRD Kabupaten Sidoarjo, Kusumo menegaskan bahwa kader PDI Perjuangan di legislatif memiliki tanggung jawab politik untuk menjadi penyeimbang kekuasaan, bukan sekadar bagian dari sistem yang kompromistis.

Ia juga menyoroti maraknya penggunaan ideologi dan simbol kebangsaan untuk membenarkan kebijakan yang justru menjauh dari semangat keadilan sosial.

“Pancasila tidak boleh dijadikan tameng kekuasaan. Ia harus hadir dalam kebijakan yang melindungi rakyat kecil, menegakkan hukum secara adil, dan melawan dominasi oligarki,” katanya.

Lebih jauh, Kusumo menilai tema Satyam Eva Jayate adalah ajakan kepada seluruh kader PDI Perjuangan agar tidak terjebak pada politik jangka pendek dan kepentingan elektoral semata, melainkan tetap menjaga konsistensi ideologi dan keberanian bersikap.

Dengan mengusung tema tersebut pada HUT 10 Januari, PDI Perjuangan kembali menegaskan dirinya sebagai kekuatan politik yang memilih berdiri di jalur kebenaran, meski harus berhadapan dengan arus besar kekuasaan dan pragmatisme politik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *