banner 728x250
Daerah  

Nail Art Bukan Sekadar Gaya, Dokter di Sidoarjo Ingatkan Dampaknya terhadap Akurasi Alat Medis

SIDOARJO//Pusatberita.i.news.Site.      Tren mempercantik kuku melalui nail art kian digemari berbagai kalangan, mulai dari remaja hingga perempuan dewasa. Namun di balik tampilannya yang menarik dan estetik, terdapat potensi risiko yang jarang disadari, khususnya dalam dunia medis. Hal ini menjadi perhatian serius dr. Andre Yulius yang mengungkap bahwa nail art dapat memengaruhi keakuratan alat kesehatan.

Menurutnya, penggunaan kuteks, terutama jenis gel dengan warna pekat, serta pemasangan kuku palsu dapat menghambat kinerja alat medis seperti pulse oximeter. Alat ini lazim digunakan untuk mengukur kadar oksigen dalam darah (SpO₂) dengan cara memanfaatkan pancaran cahaya inframerah yang menembus ujung jari.

“Ketika kuku tertutup lapisan tebal atau berwarna gelap, cahaya dari alat tidak bisa terbaca secara optimal. Ini yang kemudian menyebabkan hasil pengukuran menjadi tidak akurat,” jelasnya.

Ia menegaskan bahwa kesalahan pembacaan tersebut bukan hal sepele. Dalam beberapa kasus, selisih angka yang muncul bisa mencapai 8 hingga 10 persen. Angka tersebut tentu sangat berpengaruh, terutama dalam kondisi pasien yang membutuhkan pemantauan ketat, seperti penderita gangguan pernapasan, pasien kritis, hingga mereka yang sedang menjalani tindakan operasi.

Dalam situasi medis, setiap angka yang ditampilkan alat memiliki arti penting dan menjadi dasar pengambilan keputusan tenaga kesehatan. Ketika data yang diperoleh tidak sesuai dengan kondisi sebenarnya, maka potensi kesalahan diagnosis maupun tindakan medis pun semakin besar.

“Dalam dunia medis, akurasi adalah segalanya. Jika alat memberikan data yang keliru, maka tindakan yang diambil juga bisa tidak tepat,” tambahnya.

Lebih lanjut, ia juga menyoroti bahwa kebiasaan menggunakan nail art secara terus-menerus tidak hanya berdampak pada fungsi alat medis, tetapi juga berisiko bagi kesehatan kuku itu sendiri. Kandungan bahan kimia dalam produk kecantikan kuku, seperti formaldehida, toluena, dan dibutyl phthalate, dapat menyebabkan kuku menjadi rapuh, mudah patah, bahkan mengalami kerusakan permanen.

Tidak jarang, penggunaan kuku palsu dalam jangka panjang juga memicu iritasi pada kulit sekitar kuku hingga meningkatkan risiko infeksi apabila tidak dirawat dengan baik.

Melihat potensi risiko tersebut, masyarakat diimbau untuk lebih bijak dalam menggunakan nail art, terutama saat akan menjalani pemeriksaan kesehatan atau tindakan medis. Melepas kuteks dan kuku palsu sebelum pemeriksaan menjadi langkah sederhana namun krusial untuk memastikan hasil diagnosis tetap akurat.

Imbauan ini juga ditujukan bagi tenaga medis agar lebih teliti dalam melakukan pemeriksaan, termasuk memperhatikan kondisi kuku pasien sebagai salah satu faktor yang dapat memengaruhi hasil alat.

Fenomena ini menjadi pengingat bahwa hal kecil yang sering dianggap sepele ternyata dapat berdampak besar, terutama dalam konteks keselamatan pasien. Kecantikan memang penting, namun dalam kondisi tertentu, kesehatan dan keselamatan tetap harus menjadi prioritas utama.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *