SIDOARJO//Pusatberita.i.news.Site Sebuah kisah inspiratif lahir dari hamparan lahan yang dulunya tak terurus di wilayah Kecamatan Tulangan. Kini, lahan tersebut menjelma menjadi kebun klengkeng produktif yang mampu menghasilkan sekitar 5 ton buah hanya dalam waktu tujuh bulan, sebuah bukti nyata bahwa harapan bisa tumbuh dari tanah yang sempat terabaikan.
Momen panen ini turut dihadiri oleh Wakil Bupati Sidoarjo, Mimik Idayana, yang tak dapat menyembunyikan rasa bangganya melihat perubahan tersebut. Ia menilai, keberhasilan ini bukan sekadar hasil panen, melainkan cerminan dari semangat, kerja keras, dan kolaborasi yang terbangun antara pemerintah desa dan masyarakat.
“Ini bukan hanya tentang buah klengkeng yang dipanen, tetapi tentang bagaimana sebuah desa mampu mengubah potensi menjadi kekuatan ekonomi. Ini adalah harapan yang tumbuh dari desa,” ungkapnya dengan penuh apresiasi.

Lahan yang merupakan Tanah Kas Desa (TKD) di Desa Kureksari itu dikelola melalui kerja sama dengan pihak ketiga, yakni Yulianto. Dari sekitar 300 pohon klengkeng yang ditanam, kebun ini kini menjadi sumber produktivitas baru yang tidak hanya meningkatkan nilai ekonomi, tetapi juga membuka peluang bagi kemajuan pertanian modern di tingkat desa.
Bagi Yulianto, perjalanan ini bukan tanpa cerita. Ia memulai semuanya dari hal sederhana, sebuah keinginan sang istri yang tengah hamil dan mengidam buah klengkeng. Dari situlah langkah kecil dimulai, belajar secara otodidak, mencoba, gagal, bangkit, hingga akhirnya mampu membuktikan hasil yang membanggakan.
“Awalnya hanya ingin memenuhi keinginan keluarga. Tapi dari situ saya belajar bahwa kalau kita tekuni dengan sungguh-sungguh, hasilnya bisa jauh lebih besar dari yang kita bayangkan,” tuturnya haru.
Kini, panen kedua yang ia raih menunjukkan hasil yang lebih maksimal, dengan kualitas buah yang semakin baik dan jumlah yang meningkat signifikan. Keberhasilan ini bukan hanya milik pribadi, tetapi menjadi inspirasi bersama bahwa siapa pun bisa memulai, meski dari keterbatasan.
Wabup Mimik berharap, kisah ini dapat menjadi pemantik semangat bagi desa-desa lain di Sidoarjo untuk lebih berani berinovasi dalam mengelola aset desa.
“Kalau satu desa bisa, desa lain juga pasti bisa. Yang dibutuhkan adalah kemauan, kreativitas, dan keberanian untuk memulai,” pesannya.

Lebih dari sekadar panen, keberhasilan ini adalah simbol kebangkitan desa, bahwa dari tanah yang dulu terdiam, kini tumbuh harapan, kesejahteraan, dan masa depan yang lebih cerah bagi masyarakat.


