
SIDOARJO//Pusatberita.i.news.Site. Pagi itu, suasana di sebuah rumah sederhana di Desa Wadungasih, Kecamatan Buduran, Kabupaten Sidoarjo, terasa berbeda. Bukan karena kemeriahan, bukan pula karena keramaian. Melainkan karena hadirnya sebuah harapan baru bagi M. Sofikan (49), pria yang sejak kecil harus menerima kenyataan hidup dengan kelumpuhan pada kedua kakinya.
Puluhan tahun lamanya, dunia Sofikan seakan hanya seluas dinding rumahnya. Ia tumbuh tanpa pernah merasakan kebebasan melangkah. Aktivitas sehari-harinya sangat terbatas. Untuk berpindah tempat saja, ia harus dibantu keluarga. Waktu lebih banyak dihabiskan di dalam rumah, menatap keluar dari balik pintu dan jendela, menyaksikan kehidupan berjalan tanpa bisa benar-benar ikut menjadi bagian di dalamnya.
Keterbatasan fisik bukan satu-satunya ujian. Kondisi ekonomi keluarga yang sederhana membuat kebutuhan akan kursi roda tak pernah benar-benar terwujud. Adik iparnya, seorang tukang bengkel sepeda, menjadi sosok yang setia merawat dan membantu memenuhi kebutuhan Sofikan. Dengan penghasilan pas-pasan, prioritas keluarga tentu pada kebutuhan pokok sehari-hari. Kursi roda, yang bagi sebagian orang terlihat sederhana, bagi mereka adalah barang yang sulit dijangkau.
Namun takdir baik datang melalui kepedulian. BAZNAS Kabupaten Sidoarjo hadir membawa bantuan kursi roda sebagai bagian dari program sosialnya untuk masyarakat rentan. Bantuan tersebut bukan sekadar alat bantu mobilitas, melainkan simbol bahwa masih ada tangan-tangan yang peduli dan ingin memastikan tidak ada warga yang merasa sendirian dalam keterbatasan.
Saat kursi roda itu tiba di rumah Sofikan, suasana berubah haru. Dengan perlahan, ia didudukkan di atas kursi tersebut. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, ia dapat bergerak lebih leluasa tanpa harus sepenuhnya dipapah. Raut wajahnya memancarkan campuran rasa tak percaya dan bahagia.
“Alhamdulillah… sekarang saya bisa bergerak sendiri,” ucapnya pelan, dengan mata yang berkaca-kaca.
Bagi banyak orang, berjalan atau berpindah tempat adalah hal biasa. Namun bagi Sofikan, itu adalah kebebasan yang telah lama ia impikan. Kursi roda itu membuka peluang baru: menyapa tetangga, menikmati udara pagi di teras rumah, bahkan sekadar berpindah ruangan tanpa rasa khawatir merepotkan keluarga.
Perwakilan BAZNAS Sidoarjo menyampaikan bahwa bantuan ini merupakan amanah dari zakat, infak, dan sedekah masyarakat yang disalurkan untuk mereka yang benar-benar membutuhkan. Zakat tidak hanya berbentuk angka, tetapi menjelma menjadi perubahan nyata dalam kehidupan seseorang.
Kehadiran kursi roda tersebut juga meringankan beban keluarga. Adik iparnya yang selama ini menjadi penopang utama kini merasa sedikit lega. Beban fisik dan emosional yang dipikul selama bertahun-tahun perlahan terasa lebih ringan. Mereka merasa diperhatikan, didengar, dan dihargai.
Kisah Sofikan menjadi cermin bahwa kepedulian sosial masih tumbuh subur di tengah masyarakat. Dari dana zakat yang dihimpun dengan amanah, lahir senyum dan harapan bagi mereka yang selama ini hidup dalam keterbatasan.
Kini, dunia Sofikan tak lagi sebatas dinding rumah. Dengan kursi roda di tangannya, ia memiliki kesempatan untuk kembali merasakan kehidupan yang lebih luas. Sebuah bantuan sederhana, namun dampaknya begitu besar: mengembalikan rasa percaya diri, membangkitkan semangat, dan menghadirkan harapan baru.
Karena pada akhirnya, membantu sesama bukan hanya soal memberi, tetapi tentang menghadirkan kembali makna hidup bagi mereka yang nyaris kehilangan harapan.


