Sidoarjo//Pusatberita.i.news.Site
Suasana hangat penuh kebersamaan menyelimuti Desa Kepatihan, Kecamatan Tulangan, Kabupaten Sidoarjo, saat masyarakat menggelar tradisi tahunan Ruwah Desa atau Bersih Desa. Perayaan budaya yang telah mengakar kuat ini berlangsung meriah di pendopo desa melalui pertunjukan wayang kulit dan hiburan campursari, serta disambut antusias ratusan warga yang memadati lokasi acara hingga malam hari.
Ruwah Desa menjadi simbol rasa syukur masyarakat atas nikmat dan rezeki yang diterima sepanjang tahun, sekaligus menjadi doa bersama agar desa senantiasa diberi keselamatan dan kemajuan. Lebih dari sekadar perayaan, kegiatan ini menjadi ruang temu sosial yang mempererat hubungan antarwarga dan menumbuhkan kembali semangat gotong royong.
Sejak sore, pendopo desa telah ramai oleh warga dari berbagai usia. Acara pembuka dimeriahkan penampilan Campursari Abyor Budaya yang membawakan lagu-lagu bernuansa tradisional. Iringan musik Jawa yang berpadu dengan sentuhan modern menciptakan atmosfer meriah dan akrab. Gelak tawa dan nyanyian warga menambah semarak suasana.
Memasuki malam, perhatian penonton terpusat pada pagelaran wayang kulit dengan lakon “Wahyu Sandang Pangan” yang dibawakan dalang Ki Punawan Taruna Aji. Dengan alur cerita yang komunikatif dan sarat pesan kehidupan, pertunjukan ini menyampaikan nilai-nilai tentang pentingnya kerja keras, persatuan, dan harapan akan kesejahteraan bersama. Penonton tampak larut dalam cerita yang diselipi humor dan filosofi khas pewayangan.
Kepala Desa Kepatihan, Rigor Putratama, dalam sambutannya menjelaskan bahwa kegiatan budaya tersebut merupakan bentuk pemanfaatan dana bagi hasil pajak yang dikembalikan untuk kepentingan masyarakat. Ia menekankan pentingnya partisipasi warga dalam memenuhi kewajiban pajak sebagai penopang pembangunan desa.
Menurutnya, Ruwah Desa menjadi contoh nyata bahwa pembangunan tidak hanya berfokus pada fisik, tetapi juga pada pelestarian budaya sebagai identitas masyarakat. Pada kesempatan yang sama, ia turut mensosialisasikan program Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) yang bertujuan memberikan kepastian hukum atas kepemilikan tanah warga selama tidak terdapat sengketa.
Apresiasi juga disampaikan Camat Tulangan, Moch. Andi Sulistiono, yang menilai kekompakan masyarakat Desa Kepatihan dalam menjaga tradisi sebagai kekuatan sosial yang patut dipertahankan. Ia menegaskan bahwa pelestarian budaya lokal harus berjalan seiring dengan kemajuan pembangunan agar jati diri masyarakat tetap terjaga.

Sekretaris Desa Kepatihan, Novianto, menyebut Ruwah Desa sebagai agenda rutin yang selalu dinantikan warga. Menurutnya, kegiatan ini bukan hanya hiburan, tetapi juga sarana memperkuat hubungan sosial dan menjaga keberlangsungan budaya Jawa.
Kesan positif juga datang dari warga. Siti, salah satu warga Desa Kepatihan, mengungkapkan kegembiraannya dapat menyaksikan kembali pertunjukan wayang kulit dan campursari. Ia menilai acara semacam ini mampu menyatukan masyarakat dan menghadirkan hiburan yang bernilai budaya.
Kegiatan berlangsung aman dan tertib dengan kehadiran sejumlah unsur pemerintahan dan keamanan, di antaranya Camat Tulangan Moch. Andi Sulistiono, Danramil Tulangan Kapten Arh Aan Chunaidi, perwakilan Kapolsek Tulangan Aiptu Ujang Purwanto, Babinsa dan Bhabinkamtibmas Desa Kepatihan, serta perangkat desa.
Melalui Ruwah Desa, Pemerintah Desa Kepatihan berharap tradisi leluhur ini terus dijaga sebagai warisan budaya yang mempererat persatuan warga, menumbuhkan kebanggaan terhadap kearifan lokal, serta menjadi energi positif dalam mewujudkan desa yang maju dan harmonis.


